Rabu, 10 Januari 2018

Keajaiban Karomah Haul Solo Habib Ali Al Habsyi Simtudduror

 Ngalir.com Keajaiban di Haul Habib Ali Al Habsyi Simtudduror Solo silahkan baca sampai habis pemaparan kisahnya di bawah ini.


KEAJAIBAN HAUL SOLO




Ada sesuatu yang khas bagi warga Solo jika Event Haul tiba. Hampir semua sudut Kota Solo mencicipi "rasa" itu. Mulai penuhnya hunian Hotel dari kelas bintang sampai kelas melati, bahkan kamar-kamar rumah warga sampai disulap menjadi Hotel tiban.
Berjubelnya pembeli di warung-warung, toko-toko dan kios-kios, padatnya jalur lalu lintas hingga jalan Slamet Riyadi terpaksa harus dibagi menjadi 2 jalur. Sampai mondar mandirnya para tukang becak dan polisi, hingga para pemungut sampah semua nya dapat "berkah" dari Event Tahunan Kota Solo.

Yang pasti, tak terhitung putaran uang hasil dari transaksi entah jual beli atau jasa yg beredar selama Event Haul.
Dan tentunya Semua orang yang terlibat dalam transaksi itu entah secara langsung atau tidak, merasa sangat diuntungkan.
Terlebih lagi Pemerintah Kota Solo yang tanpa promosi dan iklan sudah dapat mendatangkan puluhan ribu, bahkan bisa jadi ratusan ribu wisatawan dari luar kota, luar pulau bahkan luar negeri.

Tapi yang lebih dari itu semua, ada hal yg membuat saya selalu bertanya-tanya, yaitu antusiasme dari para tamu dari luar kota dan luar negeri.
Meski tidak sedikit biaya yg harus keluar, tapi tiap tahun bukan nya kapok, mrk justru mengajak teman dan family nya

Saat saya melihat orang-orang itu rela tidur bertumpuk jadi satu, hanya dengan alas yg tipis, di outdoor dlm kondisi cuaca yg tergolong dingin.
Bahkan banyak juga yg membawa anak-anak nya yg masih balita.

Sempat terlihat juga sepasang pasutri, yang kalo dilihat dari romantisme nya, bisa jadi belum lama menikah, atau paling tidak belum punya anak, krn biasanya mereka akan membawa serta anak-anak nya
Mereka berdua terlihat enjoy meski sang istri hanya beralaskan karpet, tidur dipangkuan sang suami.

Mereka semua mungkin tdk ada kelebihan uang untuk menginap dihotel yg nyaman, juga tdk punya kenalan untuk dijadikan rumah inap sementara.
Mereka cukup puas hanya tidur dijalan, dengan cuaca yg dingin dan sesekali hujan.
Namun semua itu tampak tidak jadi masalah buat mereka.

Kemudian saya coba bandingkan di kondisi yg sama dgn orang-orang yang rela tidur mengantri saat ada Launching product Apple terbaru, atau saat orang-orang yg tidak menghiraukan keselamatan jiwa nya berdesakan hanya untuk mendapatkan Smartphone branded dgn harga murah, atau yang mirip dengan itu.

Apa yg membedakan mereka , dan apa persamaan nya?
Mungkin jawaban saya salah, tapi saya menemukan satu jawaban yang sama yaitu "cinta/keterkaitan hati", apa sebabnya mereka semua rela berbuat spt itu?
Untuk orang-orang yang gila gadget, barang-barang itu sudah jadi gaya hidup mrk, hingga masuk ke "hati", yg tentunya layak untuk diperjuangkan.

Sedang orang-orang yang datang di acara Haul, mereka juga "cinta" terhadap acara itu, sedang cinta itu buta, apapun yang mendera dirinya, yang mungkin jika kita "lihat" sangat menyiksa, tapi semua tak "terlihat" oleh mereka, semua tertutup oleh "cinta" (mahabbah)

Lalu, pikiran realistis saya muncul kembali..
Bagaimana mereka bisa cinta, padahal tdk sedikit dari mereka ini adalah orang yg sangat awam, yg jika ditanya, siapa Habib Ali Habsyi (sohibul Haul)?
Maka bisa dipastikan mereka salah dlm menjawab, (saya pernah secara langsung melakukan riset dgn mewawancarai beberapa pendatang sebagai contoh saja)
Padahal kita tahu semua, timbulnya cinta adalah dari ma'rifah/tahu secara detail.

Bagaimana mereka bisa datang dengan begitu antusias tanpa tahu ini Event siapa?
Tidak mungkin mrk bersusah-susah, berkorban bukan hanya waktu dan biaya, tapi juga tenaga yang bagi saya orang Solo nya sendiri saja cukup lelah mengikuti acara demi acara Haul ini
Pasti ada sesuatu yang besar, yang bernilai lebih dari semua yg mereka keluarkan.

Dalam diri setiap muslim, sejatinya mereka punya "cahaya", yaitu cahaya iman, setiap org yg ada kalimat La ilaha illallah di dlm hati nya, dia memiliki "cahaya" itu, yaitu cahaya iman
Cahaya ini berbeda-beda tiap orang nya, ada yg cahaya nya sangat kecil, dan beberapa org tertentu, memiliki cahaya iman yg sangat besar.

Nah, jika ada pertemuan yg dihadiri umat muslim dalam jumlah yang banyak, maka cahaya itu berkumpul, yg mana masing-masing membawa cahaya nya, ada yang sebesar lilin, seterang lampu dan ada yg bersinar spt mercury,
saat cahaya itu menjadi satu, maka melebur dan rata, hingga org yang hanya memiliki cahaya yg minim, jika dia dapat "merasa", dia seakan memiliki cahaya yang sangat terang di dlm dirinya, dan tentunya "rasa" itu sangatlah nikmat dan tidak dapat digambarkan dengan apapun.

Rasa" inilah yg mungkin mereka dapatkan, yang tidak pernah dapat meraka rasakan dan temukan dimanapun, kecuali di tempat-tempat atau Event-event sejenis.
Dan mungkin "rasa" itu (salah satunya ) juga yg dirasakan oleh orang-orang yang Haji atau Umroh, hingga orang "kecanduan" untuk kembali kesana lagi, tentunya untuk kasus Haji atau Umroh itu hanya sebagian faktor saja, sebab faktor pendukung lainnya sangat banyak.

Dan "rasa" itulah juga, kenapa bagi kita warga Solo, khususnya wilayah Pasar Kliwon, merasa ada yg hilang, saat Event Haul ini berakhir, bukan karena selesainya acara, tapi karena kepulangan para tamu yg kurang lebih selama 2 hari sudah menghiasi pandangan mata kami.
Selama kurang lebih 2 hari, kota kami seakan seperti Mekkah atau Madinah, yang dipenuhi oleh lalu lalang orang-orang barbaju taqwa putih, dengan peci putih dan sarung.
Yang tentunya itu semua sangat berkesan pada suasana lingkungan kami.
Maka, begitu para tamu itu lenyap, lenyap pula nuansa itu dan kembali seperti sebelumnya.

Tapi kemudian saya mencoba realistis lagi.
Bagaimana dgn konser-konser, jumpa fans, atau reuni akbar yg Islami, dihadiri juga oleh ribuan umat Islam?
Apa beda nya dgn itu? Apakah yg hadir di acara-acara tersebut juga merasa kenikmatan yg sama?
Nah, disitulah peran "pemantik", jika pada acara konser muslim dan sejenisnya, cahaya yg dibawa oleh orang-orang yang datang tidak dinyalakan, maka tentunya "hati" mereka tidak dapat merasakan cahaya itu, meski berkumpul dlm jumlah yg besar sekalipun
Tapi Event Haul ini, Habib Ali Habsyi lah pemantiknya", cahaya yang mereka bawa sekecil apapun akan dinyalakan oleh Habib Ali Habsyi.

Jika diibaratkan "wadah" maka Habib Ali yg membuka wadah itu, dan Allah SWT dan Nabi SAW lah yang akan mengisinya
Jujur, "wadah" kita ini kotor dan bocor, hingga madad (pemberian ruhani) yang setiap hari disediakan oleh Allah SWT tak mampu kita tampung, atau jika kita sempat menampung nya, maka dalam sekejab cepat habis.

Haul Habib Ali Habsyi, khusus nya acara Maulid (menurut saya pribadi) adalah tempat dibaginya madad tadi, hingga kita yang datang dengan membawa wadah yang kotor setelah dibuka oleh Habib Ali, kemudian dikucuri "pemberian ruhani" oleh Allah SWT dan Nabi SAW, sadar atau tidak sadar, faham atau tidak faham, mau atau tidak mau
Koq bisa yg tidak mau juga dapat? Karena Allah SWT adalah Maha Pemberi, dan jika memberi tidak ada hitungan nya
Koq bisa Habib Ali yg membuka wadah?
Karena Beliau lah salah satu Pandangan Allah SWT dimuka bumi, maka orang-orang yang datang di acara nya, pasti mendapatkan pemberian NYA.

Itulah mungkin yang orang-orang dapatkan saat hadir di Event Haul ini, hingga mereka juga "ketagihan" rasa itu, dan datang tiap tahunnya meski harus berkorban apapun
Karena "madad" ini "mahal" dan tidak bernilai
Jika orang-orang yang mendapatkan keuntungan materi saja, sampai mengharap Haul ini 2 kali dlm setahun, karena mereka dapat keuntungan "dhohir" yang sangat besar (sebagai contoh parkir mobil aja 30rb sehari, padahal ada berapa ratus mobil)
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang merasakan mendapat keuntungan batin yg besar?

Sebagai contoh saja.
Pada Qosidah awal saat Maulid, ada bacaan.

Allah Allah huu Allah Allah hu
Allah Allah huu Allah Allah hu
Robbi Faj'al na minal Akhyar

Setelah mengucapkan layak Allah, yang mana adalah salah satu "ismullahu la'dzom"
Kemudian berdoa, jadikanlah kami termasuk orang-orang yg baik.
Jika yang membaca kita, mungkin kata "na" (kami), kita niatkan untuk keluarga atau maksimal teman-teman dan orang-orang terdekat kita, tapi ada orang yg punya masyhad(cara pandang) lebih luas, "kami", mereka niatkan untuk semua yang hadir dari yg di dalam, di luar , penjualnya, tukang parkirnya, bahkan copet nya.
Dan masih ada yg masyhad nya lebih luas lagi daripada itu.
Lalu, apakah Allah SWT akan menolak doa itu?
Sedang Allah SWT sendiri yg menjanjikan pengabulan setiap doa.

Apalagi yang berdoa adalah ratusan ribu umat muslim.
Apalagi di acara seorang Wali yang berkedudukan Quthb,
Apalagi yang berdoa adalah orang-orang dari luar kota bahkan luar negeri, yang otomatis mereka adalah para musafir yang makbul doa nya,
Apalagi jika yang berdoa adalah kaum dhuafa
Apalagi yg berdoa adalah umat muslim yang tidak saling mengenal satu dengan lain nya, dan mereka berkumpul karena CINTA, dan Cinta mereka itu karena Allah SWT, Rasul Nya dan Wali NYA...

"Dari Mu’adz ra, bersabda Rasulullah: Allah berfirman : Orang yang saling mencintai karena-Ku pasti diberikan cinta-Ku, orang yang saling menyambung kekerabatannya karena-Ku pasti diberikan cintaKu dan orang yang saling menasehati karena-Ku pasti diberikan cintaKu serta orang yang saling berkorban karena-Ku pasti diberikan cinta-Ku. Orang-orang yang saling mencintai karena-Ku (nanti di akherat) berada di mimbar-mimbar dari cahaya". (HR Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad dan dalam kitab Shahih Jami’ ash-Shaghir no. 4198).

SEMOGA KITA TERMASUK ORANG YANG DICINTAI ALLAH SWT, DICINTAI RASULULLAH SAW DAN DICINTAI PARA WALI NYA

***

Solo | Selasa, 21 Rabiul Akhir 1439 H/9 Januari 2018 M.
Apa yang Anda baca di atas adalah tulisan yang Alfaqir sadur dari status Al Habib Umar Zain Assegaf

 Haul Solo Habib Ali Al Habsyi Simtudduror sangat sangat berkah semoga kita bisa mengikuti di lain waktu dan mengambil berkahnya.

Artikel Terkait

Disini admin bertujuan untuk memberi informasi yang bermanfaat hanya di www.ngalir.com 


EmoticonEmoticon