Kisah Perjuangan Dakwah Habib Rizieq sebelum ada FPI

Ngalir.com, Saat menikah, Habib Rizieq masih belum memiliki apa-apa kecuali hanya tumpukan coretan kertas, kitab dan buku. Takada ormas, tak ada FPI, tiada markas, tak ada bulan madu dan tak ada juga rumah kontrakan baru. Tapi jiwanya besar. Ia tak pernah gelisah hanya karena itu. Tekadnya pun tak pudar. Manusia semua lahir miskin telanjang, tapi kemudian kepada Allah manusia membuat banyak perhitungan dan sarat tuntunan.Kisah Dakwah Habib Rzieq Sbelum FPI Berdiri sangat banyak ujian dan cobaan yang di hadapi.

Kisah Dakwah Habib Rzieq

 
Habib Rizieq telah putuskan menjalani hidupnya sebagai mujahid. Bukan sekedar membagi waktu kehidupan, tapi konon telah sepenuhnya ia wakafkan. Kehidupan seorang mujahid mengalir perlahan pasti kearah tujuan. Tiada urusan duniawi mericuhkan perjalanan hidupnya. Dimana materi dan duniawi menggoyah konsentrasi dakwahnya. Tetap terus melaju tenang tanpa riak bergelombang. Selalu terus berdoa dan berikhtiar agar Allah SWT senantiasa memberikan ketetapan iman.

Menetap di rumah bundanya di Tangerang. Ia banyak melalui rutinitasnya dengan mengajar di beberapa majlis talim, baik itu di Jakarta dan Tanggerang. Hampir setiap hari ia harus bolak-balik Tanggerang-Jakarta. Perjalanan di tempunya dengan turun naik angkot atau bus. Dibawah trik panasnya matahri ibukota ia melangkahkan demi syiar dakwah islam. Peluhnya bercucuran dari ujung kepala hingga kaki. Sepotong sapu tangan agak kusam digunakan menyapu peluh di kening. Sepotong sapu tangan bekal dari Umi Fadlun menjadi saksi betapa beratnya sebuah perjuangan. Tak mengeluh meski harus berjalan di antara padatnya para penumpang. Bahkan untuk ongkos mengajarpun seringkali pas-pasan. Jangan juga pernah bertanya, berapa kali ia pernah merasa kelaparan, bukan Cuma terjadi di jalan, tapi juga saat berlangsungnya jam kajian. Tapi ia bersyukur karena sesekali masih ia jumpai gorengan atau air putih yang menjadi suguhan.

Usai mengajar, Habib Rizieq kembali pulang kerumah. Letih dan Lelah mendera, tapi ia tak ingin tunjukan ke istrinya. Seringkali pulang tanpa uang di tangan. Setiba dirumah, secercah senyum mengembang hadiah untuk istri tercinta. Senyum suami di balas umi fadhlun dengan senyum jauh lebih ceria, tanpa menyinggung sedikitpun nafkahnya. Maka sirnalah rasa Lelah, penat, bahkan duka. Inilah sebuah contoh rumah tangga yang tidak terjebak jahatnya harta. Karena sesungguhnya hakikat kebahagiaan manusia terletak pada kekonsistenan menjalankan perintah agama. Mulai dari urusan berniaga hingga urusan rumah tangga. Suami berusaha sekuat tenaga, adapun hasilnya Allah yang punya kuasa.


kisah habib rizieq


Perjuangan Mengajar dan Dakwah

Setelah dakwahnya mulai berjalan. Cobaan tak pernah sirna. Untuk mengajar dan berceramah ia bolak-balik harus menumpang kendaraan orang yang dikenalnya. Penyebabnya karena ia seringkali takpunya uang transport. Bahkan demi syiar dakwah ia harus turun naik numpang di truk. Dengan sabar ia berdiri lama di pinggir jalan menyetop truk-truk yang melintas. Beruntung supir truk memberikan izin tumpangan. Dan juga seringkali HRS berjalan kaki jika memang sudah tak ada lagi kendaraan yang di kenal atau truk tumpangan.

Dakwah adalah kewajiban. Dakwah menjadi perjuangan dan cita-cita hidupnya. Dakwah juga wilayah sakralnya. Di dalamnya terpancang kuatharapan mulia untuk agama, bangsa, dan negaranya. Ia telah siap, dari semua yang tela ia perjuangkan dan korbankan ia tak mendapatapa apa di dunia.

Pada saat moment HRS benar benar tak ada uang. Di kantong tidak ada, di dompet pun tidak ada. Padahal hari itu ia akan pergi mengajar dan berdakwah. Lokasinya sangat jauh. Ia butuh beberapa ribu rupiah untuk transport angkot pulang pergi. Umi Fadhlun sendiri tak punya simpenan uang. Wajahnya menunjukan kebingungan. Habib Rizieq bergegas mencari-cari uang yang mungkin masih tersisa. Selama belasan menit ia terus mengorek ngorek apa saja. Berusaha untuk mencari uang koin recehan. Peluhnya bercucuran karena tegang. Ia sedang di tunggu murid-muridnya. Lemari,laci,buku, dan semua sudah di periksa. Akhirnya sejumlah uang koin ia temukan. Beberapa uang koin kondisinya tidak layak, Tapi hanya itu yang ada. Sekiranya cukup untuk transportasi pergi dan pulang berdakwah. 


Kelaparan Saat tidak Ada Uang

Masih beberapa tahun lalu, Habib Rizieq, istri dan anak-anaknya sempat kelaparan. Di rumahnya sudah tak adalagi persediaan lauk, beras dan makanan. Lebih dari setengah lusin jiwa anak dan istrinya harus makan dan di nafkahi hari itu juga. Tapi uang sepuluhribu rupiah pun tidak kelihatan. Yang ada hanya tumpukan puluhan dus mie instan, tapi itu juga bukan miliknya, tapi milik umat hasil sumbangan. 

Tak ingin kesulitannya terdengar orang, diambilnya empat bungkus mie instan itu untuk dimakan sekeluarga. Lalu di catatnya di sebuah kertas, hari itu ia dan anak istri telah memakan empat bungkus mie instan sebagai pinjaman. Tak lama kemudian, saat ada rejeki empat bungkus mie itu langsung ia gantikan.

Kisah ini di ambil dari buku karya penulis Ibnu Umar Junior yang berjudul Habib Rizieq Shihab Singa Allah dari Negri Timur semoga bisa kita ambil hikmahnya dan ambil hal positif dari kisah Habib Rizieq semoga bermanfaat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel