Mengenal Indahnya Kota Tarim Hadramaut Yaman

Ngalir.com, Tarim merupakan sebuah kota di Hadramaut Terletak kurang lebih sekitar 40km dari Bandar Seiyun. Banyak Yang Mengenal Sejarah Kota Tarim. Sebuah tempat Kawasan yang berbukit bebatuan.

Namun tempat itu juga hijau dengan pepohonan kurma Berdasarkan keterangan dari sejarah, Kota Tarim ini berdiri pada abad ke 13 SM dan kota tarim ialah sebuah wilayah yang didalam berdiri kerajaan Saba’ Yaitu suatu kerajaan pimpinan Ratu Balqis.



Mengenal Sejarah Kota Tarim Yaman


Nama Tarim merupakan sebuah nama berasal dari nama Tarim bin Hadramaut, Menurut Ahli Para Sejarah, Hadramaut merupakan salah satu cucu-cicit Sam bin Nuh Dan menurut keterangan dari pendapat yang beda Hadramaut merupakan nama salah seorang pemimpin dari Dinasti Himyar Kota Tarim yaitu qalbunya Hadramaut Ia juga disebut sebagai Tarim al-Ghanna

Yaitu kota Tarim yang rindang Karena banyaknya pohon yang tumbuh rindang
Ia pun dikenali dengan nama kota Al-Siddiq kerana kota Tarim ini mendapat doa eksklusif dari Sayyidina Abu Bakar Al-Siddiq Kisahnya waktu ketika penguasa Tarim Ziyad bin Lubaid al-Anshori menyerukan membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai khalifah, maka warga Tarim sudah menerimanya tanpa menolak
.
Sehingga karena dari Sayyidina Abu Bakar sudah mendoakan warga Tarim dengan tiga doa yaiitu:

(1) semoga kota Tarim diberi kemakmuran,
(2) semoga kota Tarim Sumber Airnya Berkah dan Terus di Beri Berkah
(3) semoga kota Tarim diisi (tidak putus-putus) dengan orang-orang sholeh hingga hari qiamat.

Selain tersebut kota Tarim juga merupakan kota yang sarat dengan keberkahan.

Sebagaimana yang disebutkan bahwa pada kota Tarim ada tiga keberkahan yaitu:

(1) keberkahan pada masing-masing masjidnya
(2) keberkahan pada tanahnya dan
(3) keberkahan pada pegunungannya
          
   
Akhlaq Para Ulama di Tarim

Dan keberkahan yang utama ialah karena tidak sedikit ahlul bait dan ulama’ yang mendiaminya semenjak dahulu sampai-sampai sekarang dan disini juga tidak sedikit banyaknya makam ahlul bait, auliya, ulama’ dan shalihin.

Beliaulah yang dijuluki mata kota Tarim, seorang yang paling alim dan berwibawa. Dan beliau tergolong A’yanil bilad Tariem (Tokoh-tokoh Habaib Tarim). Alhamdulillah al faqir saat disana dulu tidak jarang menghadiri majelis di rumahnya jadwal Kamis pagi, dan pernah memeluk Beliau, didoakan oleh Beliau. Sampe meminta memori untuk berfoto dengan Beliau dan Beliau mengiyakannya.

Dimana saat dijumpai di sebuah majelis yang dihadiri oleh habaib Tarim Al Habib Abdullah bin Shahab (Ainu Tariem), Al Habib Salim bin Abdullah Asyatiri, Al Habib Masyhur bin Hafidz, Al Habib Umar bin Hafidz dan yang lainnya, kesemuanya adalah permata dari Kota Tarim. Yang saai itu ketika waktu memberikan tausiyah, maka Al Habib Salim bin Abdullah Asyatiri tidak akan memberikan waktu tausiyah sebelum Al Habib Abdullah bin Shahab memberikan tausiyah, Al Habib Masyhur bin Hafidz tidak akan menyerahkan tausiyah sebelum Al Habib Abdullah bin Shahab menyerahkan tausiyah, Al Habib Umar bin Hafidz tidak akan memberikan tausiyah sebelum Al Habib Abdullah bin Shahab memberikan tausiyah, begitu seterusnya. Beliau begitu dicintai, dihormati, disayangi, dan dikagumi.

Sedikit kisah mengenai sebuah pengalaman Tarim yang tidak jarang menandakan akhlak dan ukhuwah dalam masing-masing apa juga yang dilaksanakan oleh mereka.

Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Shahabuddin seringkali didatangi semua Ulama yang berkeinginan bepergian berdakwah ke luar negeri untuk mohon izin, berpamitan dan memohon doa’ restu. Tak kurang, Habib Umar bin Hafidz, pemimpin Darul Mustafa, Tarim, yang mencetak Ulama-ulama muda di sekian banyak negeri,
selalu salaman atau cium tangan Habib Abdullah sebelum keliling mendatangi anak muridnya. Jangan Berharap guru besar mulai beranjak dari tempat sebelum mendapat anggukan kepala Habib Abdullah.

Para ulama dan peziarah, terutama dari Indonesia, pun belum merasa mantap keliling Hadramaut sebelum memperhatikan kalam dan doa’ Habib Abdullah. Setidaknya mengupayakan menikmati senyum sang habib dan menerima suguhan teh atau kopi dari rumahnya yang dirasakan penuh sarat berkah. Habib Umar bin Hafidz enggan menyentuh gelas kopi yang disuguhkan; ia selalu mau minum dari sisa minuman di gelas habib yang paling dimuliakannya itu.

Habib Abdullah tidak melewatkan undangan siapa saja, khususnya majlis ilmu, tanpa dalil yang jelas. Apabila beliau hadir, keadaan majlis menjadi terlihat agung,sebab jemaah mendekat, merapat, fobia kehilangan bahkan sepatah-dua patah kalam beliau yang paling berharga, dan menyetujui doa-doanya yang diandalkan  makbul.

Habib Umar bin Hafidz yang dikenal sebagai jago pidato, akan memberikan semua waktunya untuk Habib Abdullah, ibaratnya, majlis mempunyai matahari tunggal : Habib Abdullah! Habib Abdullah, usianya 70-an, putra Al-Allamah Habib Muhammad, dan cucu Al-Allamah Habib Alwi bin Abdullah bin Shahabuddin, diandalkan  telah menjangkau maqam atau tingkatan yang paling tinggi sebagai seorang sufi. Seperti pun ayah, kakek, serta kakek buyutnya, beliau tergolong orang yang dekat dan begitu cinta kepad Rasulullah saw. Sehingga tak terdapat tindakan-tindakannya yang tidak mengacu pada perilaku Nabi saw. Beliau tidak jarang diundang ke Indonesia, melewati para ulama dan habaib, dan jawabannya selalu, ” Saya menantikan perintah saja!’.

Perintah? Ya, perintah dari Rasulullah saww, sebab beliau sering bercakap-cakap dengan baginda Rasul! Kakek Habib Abdullah, Al-Allamah Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Idrus bin Shahabuddin, menurut kitab Rihlatul Asfar – daftar perjalanan Sayyid (alm) Abu Bakar bin Ali bin Abu Bakar Shahabuddin – paling terkenal dengan majlis ilmu dan Rohahnya. Baik yang diselenggarakan di rumah, zawiah kakeknya, maupun di Ribath, semacam pesantren. Beliau hafal dan pandai mengisahkan kisah-kisah semua pendahulu yang mulia. Dakwahnya menyebar di kalangan masyarakat umum. Nasihatnya menyentuh dan bermanfaat untuk banyak orang.

Beliau dielu-elukan di masing-masing majelis. Orang tak mau berpisah sesudah habib turun dari mimbar.

Beliau berjalan kaki dari Tarim ke tempat-tempat jauh. Bila terdapat orang yang menawarinya kendaraan, dengan ringan beliau menjawab, “Saya masih bisa berjalan!”

Kakek buyut Habib Abdullah, Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Idrus bin Shahabuddin, sempat berdakwah di Nusantara. Beliau wafat dan dimakamkan dengan sarat penghormatan di Palembang, tahun 1910. ( SUMBER BLOG riwayat-ulama. )



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel